Sisi Israchel….
Israchel kembali terdiam, melihat raut wajahnya di cermin besar itu. Kemudian terduduk, bibirnya bergetar, ada kata yang tak bisa dia ucapkan. Kelu. Kini, airmatanya tumpah sudah, butir-butir itu terjun bebas di pipinya yang mulus.
“Perih….” serunya.
Lama ia merasakan sakit dipipinya itu. Satu jam yang lalu, seorang pria berlesung pipit datang dengan penuh amarah. Baru kali itu Rachel melihat mata semurka itu. Masih terbayang ketika pria itu datang sambil memaki dirinya, mengatainya, mencibirnya, dan menamparnya. Ya, menampar gadis itu, yang kini terbaring lemah di tempat tidurnya, sambil terus menangis tentunya. Adalah Afgan pria berlesung pipit yang sudah setahun menjadi kekasihnya. Tapi entah apa yang sudah membuatnya menjadi kalap seperti itu. Rachel masih takut, dia tidak berani melawan, hanya kebingungan yang kini dia rasakan. Apa gerangan yang bisa membuat kekasihnya murka ? Apa salahnya ? Mengapa dia tidak bertanya dulu ? Pertanyaan demi pertanyaan singgah di benak Rachel, semakin pusing, semakin tak karuan, semakin sakit dia rasakan, dan semakin lelah. Lelah. Tertidur.
***
Sisi Afgan….
“ Aaaarrrrrgggghhhhh,…..dasar bodoooooohhhhhh !!!! Pengkhiaaannnnaaaatttt !!!!”
Di sudut kamar itu, tampak pria berlesung pipit tak karuan. Wajahnya, tubuhnya, bajunya, semua tak karuan. Keringat dingin bercampur air mata dan kemarahan. Berkali-kali dia memaki dirinya dan Israchel. Dia menyebut nama itu, kekasihnya.
“ Dasar perempuan jalang !!! Bisa-bisanya dia bermain di belakangku !!! “
Satu jam yang lalu, dia berada di sebuah kontrakan, tempat kekasihnya tinggal. Dia datang sambil membawa amarah yang tak terbendung. Kalap, melihat kekasihnya tersenyum manis menyambut kedatangannya, pria itu malah memberi tamparan yang keras, sambil memaki, mencibir dan mengatainya. Setelah itu, dia pergi, meninggalkan kekasihnya tanpa memberi kesempatan berdalih sedikitpun.
“Memang salahku mengenalkannya dengan Ramon….” katanya lirih.
Untuk kesekian kalinya dia menghisap rokok yang mulai memendek. Matanya masih merah, keringatnya masih mengucur, dan hatinya masih hancur. Karena perkenalan itu. Baginya, perkenalan itu membawa bencana, tak seharusnya Israchel bertemu dengan Ramon, sahabatnya. Seharusnya, Israchel tidak usah datang ke acara wisuda Ramon. Tidak seharusnya. Kini, apa yang Rachel pikirkan tentangnya ? Mengapa Rachel tidak mencegahnya ? Mengapa Rachel diam saja diperlakukan seperti itu ? Mengapa Rachel membuat kekasihnya murka ???
***
Pengertian…bukan sebatas mengerti seseorang… mengerti apa yang dia inginkan, mengerti apa yang tidak dia inginkan….
Pengertian…justru apa yang engkau lakukan untuknya, apa yang engkau berikan untuk membantunya terlepas dari kesendirian….
Pertemuan itu tidak akan terjadi jika yang namanya “kebetulan” tidak ada. “Kebetulan” hadir ketika pria berlesung pipit itu tidak sengaja bertemu seorang gadis yang ternyata satu kota dengannya. Namanya yang unik membuat pria berlesung pipit itu terpesona saat pertama kali berkenalan dengannya. Israchel namanya. Dia tidak mau tahu dengan nama panjangnya. Yang penting kini dia nyaman bisa mengenalnya.
Begitu juga dengan Israchel, gadis yang terobsesi menjadi penulis ini tidak menyangka “kebetulan” akan hadir ketika dia membutuhkan seseorang untuk bisa menambah warna dalam hidupnya. Sesorang itu adalah Afgan, pria yang memiliki lesung pipit yang “kebetulan” satu kota lahir dengannya.
Dalam masa penyesuaian itu, mereka sama-sama saling menjaga perasaan. Hampir sama dengan yang dilakukan kalian, selalu ingin tampak sempurna di depan seseorang yang dikagumi. Lama, entah kata itu muncul hingga kapan, yang jelas lama telah berganti menjadi kini, waktu yang menggambarkan sebuah hubungan yang semakin rumit. Karena sayang itu muncul, kemudian saling pengertian, saling memahami, ada cinta di dalamnya, rasa yang kuat yang semakin besar memperat hubungan mereka menjadi lebih indah. Sebuah ikatan, di bawah pernikahan, sebatas penjajakan, mencari jati diri, saling menjaga, dan hubungan itu yang kini meraka jalani sampai saat ini.
Satu tahun sudah, segala rasa sayang, pengertian, dan cinta terbentur pula oleh rasa cemburu, benci, dan egois. Dan entah kenapa perkenalan itu terjadi lagi, “kebetulan” hadir lagi di antara keduanya lewat seorang pria, seorang sahabat karib, dan seorang saudara. Ramon namanya. Sahabat kecil Afgan yang tiba-tiba saja memberinya undangan untuk hadir ke acara wisudanya. Ada Israchel di sana, perkenalan itu terjadi. Awalnya, tampak seperti biasa, memang biasa saja dan seterusnya akan tetap biasa. Tapi entah kenapa Afgan mulai risih melihat kekasihnya terlalu dekat dengan sahabatnya, ada rasa cemburu yang tak terbendung ketika melihat keduanya semakin akrab. Sampai suatu hari….
***
Sisi Israchel…
Hari itu, tak seperti hari biasanya, Rachel begitu gelisah. Sebentar-sebantar dia melongok ke pintu gerbang. Sebentar-sebentar dia mengecek ponselnya, dan telepon rumahnya. Dia semakin gelisah ketika matahari mulai tinggi. Berkali-kali dia duduk,berdiri, lalu duduk lagi. Begitu seterusnya. Sampai akhirnya, yang ditunggu datang juga. Dari balik pintu gerbang, tampak seorang pria plontos dengan tas ransel di pundak masuk ke kontrakannya. Pria itu bukan Afgan, kekasihnya, melainkan Ramon, sahabat kekasihnya. Wajah Israchel berubah sumringah, ada rasa senang bercampur lega melihat pria itu telah datang.
“ Masuk Mon..” tawar Rachel cepat.
“ Gimana ? Capek ya ? Udah dapet tempatnya ? “
“ Sabar donk Hel… Udah… Tempatnya bagus kok… Seperti yang kamu mau, suasana pedesaan kan ? “
“ Iya…. Syukur deh… di daerah mana ?”
“ Cibubur… Lumayan jauh sih, tapi dijamin aman kok… tempatnya romantis lagi….”
“ Oya?? Wah penasaran…. Jadi gak sabar deh nunggu besok… Aku percaya, kalau Ramon yang pilihin pasti Ok…”
“ Hyaiyalah… masa iya-iya doonnkkk… Hahahahaha…. di jamin puas deeehhhh….”
“ Ya udah, mau minum apa ?? Pasti haus kan?”
“ Nggak haus lagi… udah kering nih kerongkongan….”
“ Bentar ya….”
***
Sisi Afgan…
Hari itu, tak seperti hari biasanya, Afgan begitu gelisah. Ada yang mengganjal yang dia rasakan. Akhir-akhir ini Rachel tampak lain, seperti ada yang disembunyikan, membuatnya penasaran, dan selalu curiga. Apalagi, ketika Ramon, sahabatnya ikut-ikutan membuatnya curiga. Mereka selalu membicarakan hal yang tidak Afgan mengerti, dia semakin merasa terasingkan ketika mereka mulai bertemu, dan hal itu membuatnya lelah. Hari itu, Afgan begitu ingin bertemu dengan kekasihnya, membicarakan tentang kegelisahannya, hanya ingin kejelasan saja, tidak lebih.
Matahari semakin tinggi, semakin panas, membuat darah Afgan yang mengalir bertambah panas ketika melihat dua sosok dihadapannya sedang duduk bercanda. Amarahnya sudah tak terbendung lagi. Semua yang dilihatnya benar-benar telah menjelaskan kegelisahannya selama ini. Tanpa bertanya, tanpa berkata, dan tanpa menyapa, tangan itu dengan cepat mendarat di pipi mulus Rachel. Gadis itu begitu terkejut ketika kekasihnya datang lalu menamparnya.
“ Jadi seperti ini kalian di belakangku ???!!! “ tanya Afgan dengan suara tinggi.
“ Gan… tenang… Aku jelasin…”
“ Udah jelas !!! Nggak ada yang perlu dijelasin lagi..”
“ Nggak gitu Gan… Ini tuh nggak seperti yang kamu bayangin…” sela Rachel.
“ Kamu udah bohongin aku Hel… Nyadar nggak sih…”
“ Rachel bohong apa sih ?? Nggak usah sok tahu deh…”
“ Oh.. Jadi aku yang sok tahu… Brengsek kalian semua…”
“ Afgan !!! Tunggu …” sergah Rachel yang melihat Afgan berlalu pergi.
“ Mon… bisa tinggalin aku sendiri ?? “
***
Sisi Israchel….
Israchel kembali terdiam, melihat raut wajahnya di cermin besar itu. Kemudian terduduk, bibirnya bergetar, ada kata yang tak bisa dia ucapkan. Kelu. Kini, airmatanya tumpah sudah, butir-butir itu terjun bebas di pipinya yang mulus.
“Perih….” serunya.
Lama ia merasakan sakit dipipinya itu. Dia begitu bingung akan sikap kekasihnya itu. Apa salahnya sampai pipi itu terasa sakit. Kenapa Afgan begitu membuatnya sedih tanpa ada kesempatan untuk menjelaskannya.
….. tinggalkan pesan setelah bunyi bip berikut ini…… bip….
“ Afgan berhasil membuat Rachel bingung… Apa salah Rachel sampai Afgan harus menampar pipi ini ??? Sakit rasanya… Afgan udah nyakitin Rachel… Afgan kenapa? Rachel sedih….“
***
Sisi Afgan….
….anda mendapat satu pesan di kotak suara…..
“ Afgan berhasil membuat Rachel bingung… Apa salah Rachel sampai Afgan harus menampar pipi ini ??? Sakit rasanya… Afgan udah nyakitin Rachel… Afgan kenapa? Rachel sedih….“
“ Aaaarrrrrgggghhhhh,…..dasar bodoooooohhhhhh !!!! Pengkhiaaannnnaaaatttt !!!!”
Di sudut kamar itu, tampak pria berlesung pipit tak karuan. Wajahnya, tubuhnya, bajunya, semua tak karuan. Keringat dingin bercampur air mata dan kemarahan. Berkali-kali dia memaki dirinya dan Israchel. Dia menyebut nama itu, kekasihnya.
“ Dasar perempuan jalang !!! Bisa-bisanya dia bermain di belakangku !!! “
“Memang salahku mengenalkannya dengan Ramon….” katanya lirih.
Untuk kesekian kalinya dia menghisap rokok yang mulai memendek. Matanya masih merah, keringatnya masih mengucur, dan hatinya masih hancur. Rachel kekasihnya lah yang tidak bisa mengertinya, memahaminya dan membuatnya sedih sekaligus marah. Pria itu juga, Ramon sahabatnya yang seharusnya tidak usah dia kenalkan dengan kekasihnya. Tapi sekarang hanya penyesalan yang ada, dan tak tau harus bagaimana.
***
Sisi Rachel…
“ Mon… aku bingung… apa aku harus jujur soal rahasia ini ??? Aku takut kehilangan orang yang benar-benar aku sayang….”
“ Lalu… usahamu selama ini ??? “
“ Biarlah… akan kusimpan impian itu… Tapi, kamu mau nggak mengajakku ke tempat itu… Aku ingin melihat tempat itu…”
“ Serius ??? “
“ Heeh..”
Hari itu Rachel membujuk Ramon untuk mau mengantarkannya ke daerah pedesaan di kawasan Cibubur. Tempat itu sebenarnya adalah tempat yang dipesan Rachel untuk merayakan ulang tahun Afgan lusa depan. Selama sebulan Rachel bekerja keras mencari tempat yang cocok, yang disukai Afgan dengan bantuan Ramon. Sudah satu minggu Afgan nenghilang, tak ada kabar yang jelas, dan hal itu semakin membuat Rachel bingung, dia semakin sedih kekasihnya pergi begitu saja. Sepanjang perjalanan, Rachel terus murung, pikirannya jauh melayang. Ramon masih sibuk menyetir, jalan yang dilaluinya memang tak mendukung, apalagi hujan mulai turun. Jalanan yang terjal dan berkelok membuat Ramon kewalahan. Sesampainya di tempat itu, Israchel menangis. Begitu sedihnya dia melihat tempat di depannya. Indah.
“ Inikah tempatnya ?? “ tanya Rachel pada Ramon.
“ Iya…. Kamu suka ? “
“ Suka… Tapi sayang, aku nggak bisa memakai tempat ini dengan Afgan… Tapi nggak apa-apa… Suatu saat nanti Afgan akan tau ada tempat sebagus ini…”
“ Pulang yuk… Udah hampir malam…”
“ Sebentar… Aku ingin foto di sini Mon, kali aja aku nggak bisa lagi ke tempat ini…”
Ramon memenuhi keinginan Rachel, senyum itu membuat Ramon terdiam sejenak. Begitu bodoh sahabatnya meninggalkan gadis sepengertian Rachel, seharusnya Afgan tidak begitu saja pergi.
“ Dasar bodoh ! “
“ Kenapa Mon ??? “
“ Eh…nggak… Cheerrsss”
***
Sisi Afgan…
Malam itu, Afgan begitu resah. Berulang kali dia menghubungi ponsel Rachel, namun selalu di luar jangkauan. Afgan bertambah resah ketika ponsel Ramon juga tidak aktif. Kecurigaannya muncul lagi, padahal sebenarnya dia ingin meminta maaf pada Rachel tentang sikapnya waktu itu. Kali ini Afgan begitu terkejut ketika dia melihat berita di televisi bahwa telah terjadi kecelakaan di kawasan Cibubur, dan yang dilihatnya adalah mobil milik sahabatnya, Ramon. Cepat-cepat dia pergi ke kawasan Cibubur untuk memastikan apa yang dilihatnya. Sesampai di sana, memang benar mobil itu adalah mobil sahabatnya, dan Ramon tampak terduduk lemah di tepi jalan. Sahabatnya selamat.
“ Mon… kamu nggak apa-apa ? “
“ Gan… kok kamu ada di sini ?? “
“ Aku lihat kecelakaan ini di TV… kamu nggak apa-apa kan ? “
“ Ng..nggak… nggak apa-apa…. tapi Rachel…. “
“ Tapi siapa ???? Rachel ??? Kamu pergi sama Rachel ???? “
“ Iya… aku.. nem…”
“ Mana Rachel ?? Mana Rachel ???? “
“ Dia di bawa ke Rumah Sakit…”
“ Dia kenapa ????? “
Ramon hanya menggeleng, Afgan berlalu pergi, bogem mentah itu sempat mendarat di pipi Ramon. Hatinya hancur kini, beribu pertanyaan singgah di benaknya. Rumah Sakit adalah pelariannya, dia hanya ingin tahu keadaan kekasihnya. Dia terduduk di depan ruang ICU, air matanya tumpah.
“ Dia titip ini…”, kata Ramon sambil memeberikan sebuah foto.
“ Dia minta aku mencarikan tempat itu buat kamu, karena sebentar lagi kamu ulang tahun, dia ingin memberi kejutan…”
“ Jadi selama ini….”
“ Selama ini, aku dan dia berusaha membuat ulang tahunmu besok berkesan. Tapi aku nggak nyangka, sahabatku begitu bodoh pergi tanpa mendengar penjelasan yang sebenarnya. Israchel sangat mencintaimu Gan…. Maaf, kecelakaan itu…. “
“ Jadi…. kalian berdua pergi ke tempat ini…..”
“ Ya… Rachel ingin sekali melihat tempat itu, walaupun gagal memakainya, dia ingin sekali berfoto di tempat itu…”
“ Kenapa nggak bilang…”
“ Udah pernah denger yang namanya kejutan nggak ??? Mana ada kejutan yang dibocorin. Itu namanya bukan kejutan…”
Afgan begitu payah kini, ada rasa berdosa yang dia rasakan. Kenapa dia begitu bodoh ? Kenapa dia begitu saja terbakar api cemburu ? Kenapa dia tidak mengerti semua ini ? Yang dia ingin hanya bisa meminta maaf pada kekasihnya. Tapi, begitu cepat waktu itu, Afgan tidak sempat meminta maaf, tidak sempat memanggil kekasihnya, dan tidak sempat menyapanya. Rachel begitu cepat pergi, hanya tubuhnya saja yang dia tinggalkan, bersama dengan foto dan kenangannya yang indah. Afgan begitu murka pada dirinya sendiri, pada waktu dan pada pengertian. Seharusnya dia lebih banyak meluangkan banyak waktu untuk kekasihnya dan seharusnyalah dia lebih banyak memberi sedikit pengertian untuk kekasihnya. Tapi terlambat, Rachel telah pergi.
Ditulis dalam cerpen
Tag: Add new tag
Komentar Terakhir