Saat Jingga Tak Lagi Berwarna Kelam

Jika hendak memahami seorang wanita, perhatikanlah mulutnya selagi tersenyum,; tapi untuk memahami seorang pria, perhatikanlah warna putih matanya selagi marah “ ( Kahlil Gibran )

Sebuah kertas bertuliskan pesan singkat, terselip di pintu masuk kontrakanku. Aku melihat sekelilingku, kemudian masuk ke kamar sembari membaca pesan itu.

Ku tunggu kau di Cafe Chisel jam 7 malam, nggak pake telat ya…

Dari : Boim

Boim…” kataku dalam hati. Aku melihat jam beker di samping tempat tidurku. Jam baru menunjuk pukul 5 sore, masih ada waktu dua jam untuk beristirahat sebentar. Aku merebahkan badanku di tempat tidurku, hari ke-20 di bulan Maret, dan awal dari kerja keras mendapatkan beberapa helai lembaran 50.000an. Aku menarik nafas panjang. Ini sudah yang kesekian kalinya dalam tiga bulan terakhir ini, semenjak ditinggal mati suamiku, hidupku tak karuan. Aku menengadah ke atas, mencari yang seharusnya kucari, mencari Sang Penguasa, kuharap dia tidak diam saja, nongkrong dengan santai melihat ciptaan-Nya sengsara. Aku satu diantara beribu-ribu orang di dunia yang kehilangan arah, aku berusaha untuk mempercayai-Nya, tapi begitu sulit, karena sampai sekarang aku tidak percaya Dia melihatku sedang kesusahan.

Aku memandang fotoku bersama suami dan putriku. Mas Danu meninggal empat tahun yang lalu karena kecelakaan mobil saat sedang bertugas mengantar pesanan kain batik di Solo. Dan putriku, kutitipkan pada ibu mertuaku, karena orangtuaku sudah lama meninggal. Sedangkan aku, yang bekerja di sebuah pabrik sepatu, sedang pontang-panting menyambung hidupku, hidup yang penuh dengan kesulitan, sama dengan beribu-ribu orang yang senasib denganku. Kini, aku hanya bisa mengharapkan keajaiban, tentu saja, keajaiban dari-Nya, apa dia bisa mendengar semua kesusahanku. Karena Dia tidak menghiraukanku, dan kehidupanku semakin lama semakin susah, cara ini adalah cara terakhir untuk bisa hidup. Sungguh mati, aku tidak berniat untuk menjadi seorang pelacur, ini demi buah hatiku, itu saja.

***

Jam bekerku kini sudah menunjuk pukul 18.15, aku beranjak pergi membersihkan tubuhku, yang seharian berubah wanginya menjadi wangi sepatu karet. Waktu 20 menit cukup untuk membuat tubuhku wangi dan segar kembali. Aku mulai dandan seadanya, memakai dress mini warna hitam berbentuk V, yang membuat dadaku makin terlihat menonjol. Dibalut sweater warna jingga, dan sandal berhak sedang aku siap menemui si pemberi pesan sore tadi. Cafe itu tak jauh dari kontrakanku, sekitar dua blok ke timur sedikit.

Pria yang akan kutemui ternyata belum datang, memang belum pukul 7 malam, masih sekitar sepuluh menit sebelum pukul 7. Aku memberi sedikit bedak yang mulai pudar karena perjalanan dari kontrakan ke Cafe ini, setelah itu, aku menebalkan bibirku dengan lipstik warna merah maroon. Terlambat lima menit, aku mulai gelisah, dudukku sedikit tak tenang. Aku paling benci menunggu, walaupun semenit sekalipun.

Sorry Jing… kena macet nih… you knowlah Jakarta… Lo dah lama ?”

Hahh (aku menghela nafas)… Cukup ngebuat perut gue kembung karena kebanyakan minum, paling bentar lagi beser nih…”

Pria di depanku semakin tak enak, dia melirik meja yang sudah dipenuhi 3 botol Cocacola. Dia pun mulai memesan makanan untuk kami, tanpa konfirmasi terlebih dahulu.

Sorry deh, gimana Jing, lo mau kan ?”

Mau apa ?”

Kerja sama gue, Bayarannya gede kok…”

Nggak tau deh Im… Masa gue harus ninggalin pekerjaan gue demi pekerjaan baru yang gue nggak ngerti sama sekali “

Ya haruslah, dulu waktu SMA kan lo pinter Ekonomi, malahan sering menang Olympiade Ekonomi. Otak lo kan encer…”

Kalo Ilmu Ekonomi yang gue pelajarin bisa gue terapin di dalam kehidupan gue, gue nggak bakalan jadi kayak gini. Lo kan punya duit, nah gue, boro-boro, nyari duit aja susahnya setengah hidup”

Makanya, gue pengen lo bantuin gue ngurusin usaha restoran ini. Daripada terus-terusan kerja di pabrik sepatu, lama-lama muke lo tu dah kaya sepatu aja.. Hahahaha…”

Aku terdiam, memainkan garpu dan sendok. Pikiranku jauh melayang ke tempat putriku berada. Selama sekian tahun, aku tidak mengunjunginya, dan aku harus pergi ke Batam jika menerima pekerjaan ini, dan pasti akan sangat sulit untuk bertemu lagi dengan buah hatiku. Kenapa harus Batam ?

Jing… Jingga… Lo kenapa sih… Malah bengong, dimakan tuh makanannya, mubasir lho kalo nggak dimakan… Nggak doyan ya…”

Berisik banget sih lo Im, gue lagi mikir anak gue tahu ! Kalo gue terima pekerjaan ini, gue makin jauh sama dia. Dia di Bogor aja gue jarang ketemu, apalagi kalau gue pindah ke Batam ?? “

Gue nggak maksa lo kok Jing, ini gue lakuin juga demi lo, gue pengen ngembaliin Jingga yang dulu, yang gokil, yang ceria, yang mukanya nggak kusut kaya cucian nggak kering “

Lo mang sahabat gue Im, lo yang paling ngertiin gue, di saat gue lagi sendiri dan butuh temen, lo selalu ada buat gue. Tapi, soal pekerjaan baru ini, gue butuh waktu “

Gue ngerti, tapi jangan kelamaan, waktunya cuma seminggu, abis itu gue cabut ke batam, denagn atau tanpa lo…”

Iya gue tahu… Makasih ya Im…”

Santai aja kali Jing… Lo kan, sahabat gue… Dimakan gih…”

Boim, cowok yang manis, nice dan super baik ini adalah temenku dari SMP. Aku sama dia selalu satu sekolah, dan dia selalu ada di saat aku butuhin. Kalau kata dia aku jago itung-itungan, dia justru jago ngibulin orang. Hahahaha…Nggak ding, jiwa setia kawannya gede banget, kadang aku seneng banget kalo dia udah berhasil ngebuat aku jadi cewek paling hoki sedunia karena dukungan darinya. Karena dia juga aku kenal sama Mas Danu, dia sebenernya sosok idaman para cewek, tapi karena badung, cewek-cewek banyak yang ilfeel sama dia. Tapi, cewek-cewek kayanya bakal kelepek-kelepek kalo ngeliat Boim yang sekarang, cowok yang lebih tepatnya bisa disebut sebagai esmud, alias eksekutif muda. Secara, dia sekarang jadi HRDnya restoran selefel Jimbaran Bali, dan berusaha sekuat tenaga memasukkanku untuk jadi asistennya dia di bidang pemasaran.

Kenapa lo ? Ngeliat gue kaya gitu ? Jadi malu ah…”

Yeee… Ge eR banget sih lo… “

” Eh Jing, lo mau ketemu gue aja kaya mau ketemu sama pujaan hati lo sih… Pake lipstik tebel, baju sexy pula. Bushet lo ya… Abis ini ada pesta ya Jing…”

Ah… Nggak kok, nggak ada apa-apa… Cuma janjian aja sama temen-temen pabrik gue aja…”

Janjian pake baju gitu, nggak enak dilihat ah…”

Apaan sih Im, terserah gue donk mau pake baju apaan…”

Ya udah terserah lo…”

Apa aku harus jujur sama Boim tentang pekerjaan sambilan ini ? Nggak, dia nggak boleh tahu. Aku menghabiskan minumanku, dan pertemuanku dengan Boim pun berakhir. Kami berpisah setelah mengucapkan selamat malam. Dan aku mulai memanggil taksi dan langsung meluncur ke daerah Kramat Tunggak, di tempat yang sudah biasa menjadi tempat mangkal cewek-cewek penjaja cinta itu aku bekerja sambilan. Untuk masuk menjadi “member”nya saja harus masuk seleksinya “mami”. Aku terbilang masih baru di tempat itu, malam ke-20 sampai menuju awal bulan adalah malam dimana aku harus bekerja keras mendapatkan uang, untuk makan,untuk bayak kontrakan yang nggak lunas-lunas, untuk bayar utang, dan untuk hidup putriku di Bogor.

Aku tahu ini pekerjaan yang sangat hina, tapi inilah Jakarta, seharusnya aku tahu, bahwa tempat ini adalah nerakanya dunia, kesalahn besar kalau kalian datang ke Jakarta, apalagi kalau pendatang, yang tidak tahu bagaimana Jakarta. Sudahlah, mau bagaimana lagi, toh kelihatannya Yang di Atas tetap tidak merespon apa yang sudah terjadi padaku. Kini, aku hanya menunggu lelaki hidung belang, yang merindukan belaian wanita. Hanya untuk merasakan nikmatnya surga dunia saja harus membayar sangat mahal, tidak bisakah mereka menunggu sampai menikah ? Atau justru sudah menikah dan tidak mendapat kepuasanlah yang menghantarkan mereka ke tempat ini ? Tak tahulah, yang jelas, aku jadi teringat Puisi Mbeling yang kudapat saat SMA ; begini puisinya…

Aku Ingin Tanya

Siapakah yang paling banyak dosa ?

Pelacur, Garong, Koruptor, Kau,

Atau aku ?

***

Selama lima hari ini, Boim agak berbeda. Dia lebih sering mengunjungiku di kontrakan, dan itu membuatku susah untuk kabur ke Kramat Tunggak. Setelah pulang kerja dari pabrik, dia sudah berada di depan kontrakanku, duduk sambil menghisap rokoknya walaupun sudah memendek. Lalu karena tak tahan, aku memberanikan diri untuk menegurnya.

“ Im… Gue mau pergi nih…”

“ Ke Kramat Tunggak lagi…”

Deg. Jantungku berdegup dangat kencang. Darimana Boim tahu ? Aku kebingungan, salah tingkah dan pucat seketika. Aku tidak bias menenangkan diriku, kemudian terduduk lemas.

“ Gue udah tahu Jing, kemaren gue ngikutin lo ke Kramat Tunggak “

“ Lo… Lo ngapain sih ngikutin gue Im ? Lancang banget, nggak ngerti gue…”

“ Justru gue yang nggak ngerti sama lo ? Bego, goblok, tolol banget sih lo Jing !! Kanapa lo mesti jadi pelacur sih ? Kalo lo kesusahan bilang ke gue kan bisa Jing…”

“ Gue nggak mau tergantung mulu sama lo… Gue bingung, jalan hidup gue kacau, kalau yang namanya Tuhan itu ngedengerin semua doa gue, gue juga nggak mau jadi pelacur…”

“ Lo nyalahin Tuhan Jing, nyebut Jing, nggak bener nih… Lo harus ikut gue kerja di Batam, tinggalin pekerjaan lo yang konyol ini, atau kalau lo masih tetep bertahan di Jakarta, gue yang nagging biaya hidup lo…”

Plak.

“ Gue udah bilang ke lo, gue nggak mau nyusahin lo terus Im. Ini hidup gue, berhenti ngatur hidup gue. Lo cuma temen gue “.

“ Gue nggak nyangka, selain pinter ekonomi, lo juga pinter nyakitin perasaan orang “

“ Maksud lo ? “

“ Gue ngelakuin ini semua buat lo Jing, gue pengen lo bahagia. Gue emang temen lo, temen lo, dan mungkin selamanya bakal jadi temen lo. Tapi Jing, di dalam hidup gue, Cuma lo satu-satunya yang gue pikirin, karena dari dulu sampe sekarang gue peduli sama lo, sama keluarga lo, sama anak lo. Gue udah lama jatuh cinta sama lo. Bukan, lebih tepatnya sama Jingga, Jingga yang gue kenal kuat, nggak lemah kaya lo. Sorry kalo gue jadi penghalang hidup lo. Tapi please, demi anak lo, jangan jadi pelacur lagi “.

Boim berlalu, tinggal aku sendiri di ruang tamu yang nggak seberapa besar. Aku menangis, baru menyadari bahwa Tuhan hadir lewat Boim yang udah membukakan mata hatiku. Tangisku makin menjadi, pasalnya, aku teringat putriku, dan teringat Mas Danu. Aku kini begitu lemah, bagai sehelai bulu yang terbang tak tentu arah terbawa hembusan angin. Benarkah selama ini aku dicintai, selain Mas Danu, Boim juga mencintaiku ? Dan aku nggak menyadari semua yang dilakukannya hanyalah untuk membuatku bahagia. Tapi, kini aku kotor, aku sudah bukan Jingga yang dulu, yang berwarna cerah ketika terbias sinar surya, tapi kini hanya ada Jingga yang berwarna kelam, tak lagi menarik karena tertutup awan mendung.

***

Hari ke-27 di bulan Maret, dan hari ini aku berniat untuk menemui Boim. Aku memutuskan untuk ikut dengannya ke Batam. Aku harap, kali ini Tuhan mendengarkanku. Aku sampai di Cafe Chisel tepat pukul 7 malam. Sebelumnya, aku sudah terlebih dulu mengirim esan singkat ke HPnya, tapi pending. Kini, sudah satu jam aku menunggu, yang kutunggu tak kunjung datang juga, karena putus asa, aku memutuskan untuk pergi dan membuang jauh-jauh harapanku. Lagi-lagi, aku menengadah ke atas sambil merengut. Dia tidak mendengakanku lagi.

“ Mau kemana Jing, sorry telat, macet… Dah lama ya nunggunya “

Boim, dia datang. Aku menengadah ke atas sambil tersenyum. Aku duduk kembali, menghela nafas panjang, dan mulai merangkai kata-kata yang tepat untuk membuka kembali pembicaraan.

“ Gue mau minta maaf Im… Gue udah putusin, gue ikut lo ke Batam…”

“ Nggak apa-apa, gue ngerti posisi lo. Tapi soal restoran di Batam, gue udah nemuin orang yang tepat untuk jadi asisten gue, sorry ya Jing… Seharusnya gue bilang dari awal…”

“ Apa ? Oh… Ya udah, gue ngerti…”

Ck, kesempatan emas hilang dengan mudahnya. Tuhan, kau benar-benar kejam, tidak bisakah memberikanku kesempatan untuk bahagia. Sekarang apalagi ? Apa aku harus jadi pelacur lagi ? ” Haaahhh… Lo tu ya Jing… Gue bercanda lagi, mana mungkin gue bisa nemuin orang yang jago itung-itungan selain lo… Bagus deh kalo lo dah sadar… Gue jadi tenang…” ” Gue nggak ngerti…” ” Sekarang lo resmi jadi asisten managerial. Selamat bergabung. Tapi anak lo gimana ? “

“ Sialan lo… Anak gue, gue juga nggak tahu. Tapi secepatnya gue bakal bilang sama neneknya. Gue bakal ngirim duit buat dia sekolah sama makan tentunya “.

“ Kalo gitu, besok gue ikut. Selama di Batam kan lo sama gue, jadi gue yang bertanggung jawab “

“ Makasih ya Im…”

“ Asal lo janji sama gue, nggak bakal jadi pelacur lagi “

“ Iya. Im, lo… serius cinta ma gue ? “

“ Hah ?! Apa ? Eh… itu…”

“ Gue juga cinta kok ma lo… Gue sadar selama ini kalo nggak da lo, nggak tahu deh kaya gimana. Sepeninggal Mas Danu, gue emang nggak jelas arahnya, dan ternyata lo hadir lagi di kehidupan gue “

Boim hanya tersenyum mendengar pengakuanku. Tanpa ada pembicaraan yang berarti, aku hanya terdiam menikmati makan malam yang nggak karuan rasanya. Yang jelas, di akhir bulan, aku berpamitan kepada mertua dan anak perempuanku. Meminta restu mereka untuk bekerja lebih baik dari sebelumnya. Tapi kemudian, pengakuan mengejutkan tiba-tiba keluar dari mulut Baim.

“ Bu, kalau diijinkan, saya ingin membawa ibu dan anak Jingga ikut ke Batam. Dan kalu diijinkan juga, saya ingin menjadi ayah dari anak Jingga. Bagaimanapun dia membutuhkan sosok Ayah, dan saya pun sudah lama mencintai Jingga. Saya ingin menikahi Jingga “.

“ Boim…”

Ibu mertuaku, yang sudah sepuh, manggut-manggut saja menandakan kesetujuannya. Dia juga tidak sanggup lagi merawat anakku bila seorang diri. Dan, betapa bahagianya putriku, yang kini sudah menganggap Boim sebagai ayahnya.

“ Jing… maukah kau menikah denganku ? “

Sebuah ciuman mesra hanya bisa kuberi kepadanya sebagai jawaban persetujuanku. Dan inilah jawaban yang kuterima dari Tuhan. Sebuah jawaban yang indah. Warna jingga tak lagi kelam, walaupun sudah penuh dengan peluh dan debu, warnanya kini kembali ke warna asal, warna Jingga yang terang karena ada sang surya yang menyinarinya.

by : rindank_sweety

~ oleh herlindamipur pada 2 PMpFri, 11 Apr 2008 13:36:59 +000036Jumat 2008.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.