gadis di pojokan…

Gadis di pojokan itu tampak lelah, berkali-kali mengeluh, berkali-kali menghela nafas. Hari itu, sahabatnya bercerita tentang mantannya, tentang perasaannya yang masih terpendam, tetapi masih sakit jika diingat. Sahabatnya datang dengan membawa seribu cerita tentang percintaannya, perasaannya, dan tentang hidupnya. Gadis di pojokan itu hanya manggut-manggut tapi serius menanggapi sahabatnya bercerita. Penuh simpati dia berusaha memberi semangat sahabatnya. Walaupun sulit, gadis di pojokan itu yakin sedikit kata-katanya pasti di dengar. Sahabatnya berlalu pergi, membawa bekal nasehat yang sudah diberikan gadis di pojokan itu.

***

Gadis di pojokan itu tampak termenung, di depan pintu kamar kos sahabatnya yang lain dia duduk sambil terus mendengar sahabatnya bertutur. Ada perasaan yang sama yang dia rasakan dengan sahabatnya itu, sebuah penantian, menanti seseorang yang bisa dengan tulus disayangi. Sahabatnya bercerita sambil menangis, begitu rindunya dia dengan mantannya (lagi-lagi mantannya). Gadis di pojokan itu juga ikut menangis, bukan mengingat mantannya juga, melainkan mengingat semua hal yang membuatnya bertambah masalah. Gadis di pojokan itu hanya berucap “Suatu saat nanti, dia juga akan datang dengan sendirinya…”. Sahabatnya hanya mengiyakan kemudian tertidur karena lelah menangis.

***

Gadis di pojokan itu tampak senang karena melihat pria yang diincarnya di gereja. Dia bersama sahabatnya yang lain sangat kompak dalam hal menilai pria. Sampai-sampai mereka pernah menyukai 4pria yang sama. Sahabatnya begitu jatuh cinta dengan dua orang pria yang sampai saat ini tidak menyadari bahwa ada seorang gadis yang mengagumi mereka. Gadis di pojokan itu kemudian cepat-cepat berdoa, agar sahabatnya bisa menemukan pria yang cocok untuknya.

***

Gadis di pojokan itu tampak gelisah mendapat pesan singkat dari kakaknya. Menanyakan kabarnya, berat badannya, dan tidak lupa soal pria. Kakaknya yang jauh darinya begitu semangat bercerita ketika pekerjaan baru sudah ada di tangan, apalagi kekasihnya selalu ada di dekatnya untuk memberi semangat. Gadis di pojokan itu tersenyum sembari membalas pesan singkat kakaknya, bahwa dia baik-baik saja, walaupun jauh darinya dan orang tua, dia yakin bisa menjaga diri. Dia tak peduli lagi dengan ledekan kakaknya soal pria-pria di seberang sana yang dengan tega mempermainkannya. Kakaknya yakin gadis di pojokan itu pasti bisa mengatasi persoalannya sendiri. Gadis di pojokan itu tidak lupa memberi salam sayang untuk calon kakak iparnya yang selalu memberi semangat untuknya.

***

Gadis di pojokan itu tampak murung, setelah pesan singkat dia terima dari orang tuanya. Gadis di pojokan itu begitu merindukan orang tuanya, tempat kelahirannya dan teman-temannya di sana. Orang tuanya bertutur kalau sebaiknya gadis di pojokan itu kembali pulang setelah urusannya selesai di kota seberang. Walaupun sebentar lagi, tapi rasa rindu itu masih tetap terasa. Setengah tahun sudah dia tak bertemu dengan orang tuanya, rasa rindunya hanya bisa dia tumpahkan lewat suara atau pesan singkat. Gadis di pojokan itu tampak sumringah ketika pulsa ponselnya telah terisi.

***

Gadis di pojokan itu tampak payah ketika bunyi ponselnya berhasil membangunkan tidurnya. Sahabat kakaknya memberi pesan singkat setiap malam hanya untuk mengucapkan selamat tidur. Gadis di pojokan tersenyum simpul menerima pesan itu. Baginya, sahabat kakaknya itu sudah seperti kakak laki-lakinya sendiri. Sedari kecil selalu bermain bersama, sampai sekarang masih berhubungan baik, dan itu membuatnya merasa dilindungi. Walaupun jarang bertemu, sahabat kakaknya bisa menggantikan posisi kakaknya untuk sementara waktu.

***

Gadis di pojokan itu begitu sebal, ketika pria yang akan ditemuinya telah pergi, padahal gadis itu telah susah payah datang untuk menemuinya. Pria itu begitu saja pergi padahal janji itu sudah terucap. Gadis di pojokan itu masih tampak sebal, ketika nafsu makan malamnya tiba-tiba hilang. Air mata itu tidak sengaja keluar ketika dia mulai merasa diremehkan. Padahal saat itu ada pria lain juga yang membuatnya sebal, karena tidak bisa hadir dalam acara meliput berita. Gadis di pojokan itu semakin frustasi dan memutuskan untuk kembali pulang.

***

Gadis di pojokan itu tampak seksama mendengar sahabatnya yang lain bercerita tentang kekasihnya yang mulai berselingkuh. Tetesan airmata sahabatnya yang tak berhenti membuatnya heran sekaligus simpati. Untuk apa sahabatnya menangisi pria yang sudah menyakiti perasaannya ? Tapi, gadis di pojokan itu tetap berusaha mengerti posisi sahabatnya, gadis di pojokan itu berusaha memberi semangat sahabatnya walaupun keadaannya sedang payah. Sahabatnya hanya bisa tersenyum sembari berkata “Aku baik-baik saja…”.

***

Gadis di pojokan itu tampak bingung kini, itu hanya sebagian kecil hari-hari yang dia lewati. Tampak rumit, tampak membutuhkan emosi lebih, untuk menghibur, untuk memberi semangat, untuk terbuka, untuk meyakinkan, untuk menahan emosi, untuk menerima kekacauan, untuk mendoakan, untuk merindukan, dan untuk memahami. Jiwa, hati dan pikiran itu bergulat untuk sedikit meluangkan waktu. Tanpa sadar, balasan itu bermacam-macam, senyuman, makian, teguran dan penyesalan datang untuk gadis itu. Semakin bingung, karena saat ini dia yang sedang berkeluh kesah, kepada siapa dia akan bercerita ????

~ oleh herlindamipur pada 2 AMpThu, 01 May 2008 05:15:35 +000015Kamis 2008.

2 Tanggapan to “gadis di pojokan…”

  1. duh, gadis di pojokan, unik banget menurutq, n juga ………. gimana ya ngebahasainnya

    dpet ide dari mana nch???

  2. waaaaaaahhhhhhh d bt crita….jd terharu…hehehhe,,

    thanks y prend….

    terus semangad dan teruslah berkarya…hehe

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.