Menyambut Hari Buruh Sedunia

•2 AMpSun, 27 Apr 2008 09:55:27 +000055Minggu 2008 • 1 Komentar

YOGYA – Dalam rangka menyambut hari buruh sedunia yang jatuh pada tanggal 1 Mei (May Day), Aliansi Mahasiswa Yogyakarta (AMY) kembali turun ke jalan untuk menyampaikan orasinya. Bertempat di depan Kampus I Universitas Sanata Dharma dan Universitas Atmajaya Hukum (25/04), AMY menyerukan dan mengajak seluruh karyawan/buruh dan Mahasiswa untuk ikut bersama-sama memperjuangkan hak-hak yang seharusnya sudah didapatkan. Hal ini ditujukan demi kesejahteraan para karyawan/buruh menjadi lebih baik dan nuansa perjuangan yang berpihak pada rakyat.

Saat ini karyawan/buruh dirasa terancam kedudukannya, hal ini diakibatkan lahirnya revolusi industri yang mendorong terjadinya perubahan sistem produksi di masyarakat yang telah menggeser keberadaan tenaga kerja manusia yang tergantikan oleh tenaga mesin. Dari sinilah kemudian, kapitalisme lahir dan terus berkembang, dan hal inilah yang membuat posisi para karyawan/buruh berada dalam situasi yang sangat terjepit dan tidak berdaya.

Orasi yang berlangsung selama satu jam ini sempat menarik perhatian mahasiswa-mahasiswa yang melintas di Jalan Moses Gatotkaca. Pergerakan Mahasiswa yang tergabung dalam AMY ini antara lain datang dari Tajam USD, SMPR UJB, KMPD UIN, UST, KOMPRES UTY, KOMIK UPN, UII, SOPINK UMY, DJONG ATMAJAYA, AA YKPN, dan LPP. Orasi ini merupakan serentetan acara aksi rooling kampus yang diselenggarakan mulai tanggal 23-30 April 2008.

Sampur di Andalas

•2 AMpFri, 18 Apr 2008 03:11:55 +000011Jumat 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ya, seperti kata pembawa acara, drama ini memberikan pesan bahwa keanekaragaman budaya di Indonesia harus saling melengkapi, dan kita harus mau menerima budaya-budaya lain yang beranekaragam. Menurut ambo, drama ini cukup bagus “, demikian tanggapan Ketua Program Studi PBSID, Sanata Dharma, Drs. Prapta Dihardja, S.J.,M.Hum dengan menggunakan bahasa Padang ketika memberikan kesannya setelah melihat Pementasan Kelompok berjudul ”Sampur di Andalas”.

Bertempat di Aula Sanata Dharma, Angkatan 2005 kelas A, Prodi PBSID menggelar Pementasan Kelompok sebagai salah satu syarat mengikuti salah satu mata kuliah yang wajib diselenggarakan setiap satu tahun sekali (13/4). Acara yang dimulai pukul 19.00 WIB ini berlangsung sangat tertib, penonton tampak sangat menikmati drama yang dipertunjukkan. Dengan mengambil judul “Sampur di Andalas” penonton diharapkan dapat memetik pesan yang ingin disampaikan yaitu mau menerima keanekaragaman budaya dari daerah lain.

Drama ini menceritakan usaha seorang gadis Jawa yang ingin memperkenalkan tarian khas Jawa pada penduduk di Andalas (Sumatera). Namun, niatnya terhalang oleh penduduk yang tidak suka orang asing mengajarkan hal yang macam-macam. Akhirnya, dengan seijin tetua di Andalas, gadis Jawa tadi diperbolehkan untuk mengajarkan tariannya kepada gadis-gadis di Andalas.

Acara semakin meriah ketika pembawa acara membagikan doorprise kepada para penonton. Bagi para penonton yang dapat menjawab pertanyaan seputar drama tadi, diberikan kenang-kenangan dari panitia. Dalam pembagian doorprise penonton juga diberi kesempatan untuk memberikan pesan dan kesannya setelah melihat pertunjukkan tadi.

bukit bintang

•2 AMpSun, 13 Apr 2008 08:04:26 +000004Minggu 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

BUKIT BINTANG

Liburan panjang kemarin, aku dan teman-temanku pergi ke sebuah tempat yang bagi kami bakalan nggak afdol kalau belum ke tempat itu. Namanya waduk Sempor, sama seperti Gajah Mungkur, tempat ini memang berupa waduk, nggak terlalu besar sih, tapi bagiku dan penduduk kota Gombong, waduk ini cukup indah, apalagi kalau pagi hari, kita bisa lihat sunrise muncul di balik pepohonan pinus, ditambah dinginnya udara pagi yang seger banget, nggak kalah romantis deh.

Terakhir aku berkunjung ke sana, nggak ada perubahan berarti, hanya warna pagar besi dan tiang-tiang lampu diberi warna cat biru, terkesan semakin cerah saja. Untuk kesekian kalinya aku menghela nafas, bukan untuk mengeluh, tetapi justru aku terharu bisa kembali melihat waduk itu lagi. Mungkin bagi yang pertama kali melihat, waduk ini nggak ada keistimewaannya sama sekali, tapi bagiku dan bagi temanku atau bagi sebagian penduduk kota Gombong, tempat ini menyimpan berbagai kenangan. Ada rasa rindu, rasa haru, dan rasa tenang yang aku rasakan, walaupun hanya sebentar, tapi hangatnya matahari pagi itu, suara canda tawa orang, dan suara air itu masih sangat jelas aku ingat.

Setelah sekian lama, baru Natal tahun lalu aku bisa kembali melihat waduk itu lagi. Aku dan temanku mempunyai panggilan sayang untuk waduk ini, kami sering menyebutnya “bukit bintang”, karena di tempat ini kita bisa melihat bintang-bintang yang bertaburan (cie…kayanya romantis). Di tempat ini pula, aku dan temanku bermain, entah itu bermain basket, memancing, pasang petasan (hehehe…dulu nakal banget ), sampai bermain di sungai yang banyak batu besarnya. Yang paling ngangenin adalah, makanan khas tempat ini, mendoan di tambah ketan di tambah sambel kecapnya, haduuuhhhh jadi ngileeerrr deehhh… Pokoknya kalau ke waduk belom makan mendoannya, sama aja nggak ke waduk, hehehehe…Promosi..

Kalau kalian pengen menikmati dunia ( kaya Fauzi Baadila ) coba deh cari tempat yang kalian suka, yang bisa bikin kangen, yang menyimpan berjuta-juta kenangan indah tentunya. Menikmati dunia nggak harus pergi ke luar negeri atau ngabisin duit hanya untuk bersenang-senang, tapi coba deh liat di sekitar kalian, tempat yang menyenangkan bisa juga memberi pengalaman yang nggak terlupakan. Betuulll??? Selamat menikmati dunia…Kangen Sempor deee…

tiga anak vampire

•2 AMpSun, 13 Apr 2008 07:13:56 +000013Minggu 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Aku punya cerita lucu niee…..

Tiga Anak Vampire

Di suatu malam yang dingin’nya amit-amit…(lebay banget), tiga anak vampire sedang bersiap-siap untuk mencari mangsa darah segar. Dalam persiapannya itu, mereka terlibat perbincangan seru.

Vampire 1 : “ Heeeyyyy…dengarlah……Aku anak vampire paliiinnngg pandaiiii….”

Vampire 2 : “ Maksud looooo…..” kata vampire 2 dengan logat sok jakarte-nya.

Vampire 1 : “ Aku bisa menghisap darah penduduk kecamatan dalam jangka waktu 1 jam..”

Vampire 3 : “Bohong !! Masa bisa secepat itu….” sela vampire yang paling kecil di antara ketiganya.

Vampire 1 : Kalian nggak percaya???? Woke… akan kubuktikan….”

Vampire 1 pergi menepati janjinya menghisap darah penduduk sekecamatan dalam waktu 1 jam. Apakah berhasil ??? Ternyata….

Sudah satu jam…. Vampire 1 kembali….

Vampire 2 dan 3 : “ Wah hebat-hebat…..benar-benar hebat…..” kedua vampire itu berdecak kagum setelah melihat wajah vampire 1 berlumuran darah.

Vampire 1 : “ Kalian lihat ??? Penduduk sekecamatan ludes… ku hisap mereka…hahaha”

Vampire 2 : “ Kalau begitu aku juga nggak mau kalah… Aku akan menghisap penduduk sekabupaten dalam waktu setengah jam !!!”

Vampire 3 : “ Apaaa???? Jangan gila dooonnnkkkk….”

Vampire 2 berlalu pergi. Dan setengah jam kemudian kembali dengan mulut berlumuran darah.

Vampire 1 dan 3 : “ Waaaaa…hebat-hebat…Kamu sungguh-sungguh hebaaat”

Vampire 2 : (bersendawa) “ Kenyaaaangggg…..”

Vampire 3 : “ Aku juga nggak mau kalah…. Aku juga mau menghisap penduduk satu kota dalam waktu 10 menit….”

Vampire 1 dan 2 : “ Wahaahahahahahaha….nggak mungkiiiinnnn…km kan masih keciiillll…..Mana bisaaaaa…”

Vampire 3 tidak peduli dengan ledekan ke dua vampire tersebut, walaupun ragu tapi vampire itu tetap menjalankan aksinya. Ternyata di luar dugaan, vampire 3 kembali lebih cepat dari perkiraan, belum ada 10 menit vampire itu kembali dengan mulut berlumuran darah.

Vampire 1 dan 2 : “ Waaahhhh hebat-hebat…..hebat bangeeettt…belum ada 10 menit tapi kamu udah berhasil menghisap penduduk satu kota….sallluuuutttt”

Vampire 3 : “ Adduuuhhh….”

Vampire 1 : “ Kamu kenapa??? Kekenyangaaannn..???”

Vampire 3 : (hanya menggeleng)

Vampire 2 : “ Ooohhh…kamu masih lapar ya?”

Vampire 3 : ( menggeleng lagi )

Vampire 1 dan 2 : “ Teruuusss….kenapaaa ????”

Vampire 3 :”Aku nabrak tiaannggg…… pusiiiinnngggg…..hwaaaaaaa”

Vampire 1 dan 2 : “ gubrrraaakkk….”

Hehehehe…..jayuuusss yak??? Biarin dehhh….yang penting bisa buat kalian semua tersenyuuummm…

Senyum kalian tuh manis lhoh….Hehehehe…apa sie….Tunggu aj cerita lucu yang laiiinnn…

aku benci dia

•2 PMpFri, 11 Apr 2008 13:57:44 +000057Jumat 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Aku benci dia…pria yang sudah membuatku merana. Aku benci dia… pria yang dengan tega membuat hatiku hancur. Siapa sebenarnya pria itu ?? Aku tak begitu mengenalnya, namun aku sangat nyaman berada di dekatnya.. bukan… lebih tepatnya nyaman sudah menjadi temannya.

Ya… aku adalah temannya, awalnya, tapi kini sebuah hubungan yang entah kenapa harus ku jalani membuatku semakin merana. Aku tak bisa menyimpulkan perasaan ini, aku butuh pertolongan, aku butuh kejelasan. Sungguh, aku tak ingin kehilangan dia. Pria itu, pria yang membuatku bingung setiap waktu. Karena sifatnya, karena tingkahnya yang tak menentu, dan karena keinginannya bertemu denganku.

Kalian tahu, aku seorang perempuan yang selalu mengeluh.. Bukan karena aku membenci hidup ini, tapi karena aku tak tahu harus bagaimana menghadapi hidup yang begitu membingungkan. Kini, aku harus bagaimana ?? Harus melepas pria di seberang sana yang ku tak tahu jelas apa maunya ??? Atau justru aku harus mengejarnya, untuk menanyakan kembali cintanya ??? Cinta ???

Ya… entah benar atau tidak, entah harus atau tidak perasaan itu benar ada atau tidak itulah yang ingin kutanyakan. Aku tak butuh kata cinta!! Aku hanya butuh cinta !!

Mengerti maksudku ?? Kalau hanya sekedar kata, aku bisa dengan sangat leluasa untuk hanya berkata cinta. Tapi tahukah… begitu sulit untuk mendapatkan cinta, bukan kata cinta.

Sebelum aku mengejarnya, aku ingin sekali berlari menjauh…dari dunia kalian, pergi ke dunia maya, dan berharap tak ada seorangpun termasuk dia ada di sana. Karena aku sedih, karena aku terpuruk, karena aku sial, karena aku begitu bingung dengan semua ini. Semua yang akan indah pada waktunya, tapi entah kapan…entah kapan…sampai semuanya berakhir.. apa aku masih galau karena cinta ???

Setelah aku mengejarnya, bertemu dengannya, ingin sekali aku menamparnya keras-keras. Pria yang sudah membuatku gila karena kata-kata cinta yang dia ucapkan. Hanya sekedar kata cinta, tanpa ku ketahui apakah cinta itu memang ada untukku ???

Dan akhirnya, aku hanya bisa menunggu… menunggu dan berharap cinta tak hanya sekedar kata saja, tapi benar-benar rasa…benar-benar timbal balik dari rasa yang kini ku rasakan di atas kata sayang…dan kata cinta…

Lalu apa ??? Apa yang bisa menggambarkan perasaan di atas kata cinta ???

Tak adakah ??? Apa hanya kata cinta yang mampu mengungkapkan perasaan ini ???

Aku ingin lebih… Kelak, jika terjadi dunia baru, aku ingin mereka menciptakan sebuah kata baru yang lebih menggambarkan perasaan ini… Yang lebih menggambarkan kata cinta…

18 feb 2008 6:44 pm

Akhir Ceritaku

•2 PMpFri, 11 Apr 2008 13:46:29 +000046Jumat 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pria itu masih terduduk lemas, matanya masih sembab, badannya masih basah karena keringat. Baru kali ini dia merasakan perasaan yang begitu hancur. Tangan kanannya masih memegang beberapa helai kertas yang sebagian terkena percikan darah. Lalu, dengan sisa tenaganya, pria itu kembali membaca helaian kertas itu. Sebuah cerita pendek yang ditulis kekasihnya, dan dari sebuah cerita itu pula pria itu mengerti betapa cinta sejati itu tidak mengharapkan kehadiran orang ke tiga.

***

Maafkan Aku Mencintaimu

Bukan mauku untuk membuat pria di depanku ini sedih. Bukan mauku pula, membuat pria di hadapanku ini menangis. Aku hanyalah wanita bodoh yang mau menerima cintanya sementara aku sendiri sedang menjalin hubungan cinta dengan pria lain, yang juga ku cintai. Aku ikut menangis ketika dia mulai mengatakan betapa dia mencintaiku. Tangan hangatnya menggenggam erat tangan mungilku, matanya yang merah dan berkaca-kaca mencoba berbicara bahwa apa yang ku katakan padanya adalah kebohongan.

Aku menangis lagi, sekali lagi aku hanya wanita bodoh yang dengan tega mempermainkan perasaan dua pria sekaligus. Aku berkata yang sejujurnya dengan bibir kelu bergetar.

“ Sorry…. Aku memang sudah menjadikanmu orang ke tiga …..”

Pria itu kini diam, aku tahu, perasaannya pasti telah hancur, aku hanya bisa menangis di pelukannya. Kami diam sekian lama, hanya ada tangis yang terdengar. Baru kali ini kudengar tangis pria yang menahan hancur perasaannya. Dan baru kali ini, kulihat pria setangguh dia, yang begitu rela menerima hubungan ini. Sampai akhirnya, dia memecah keheningan itu.

“ Aku boleh kan tetap mencintaimu… Sebenernya, aku pengen banget marah sama kamu, tapi rasa cintaku lebih besar daripada rasa marahku….”

Tangisku semakin menjadi, aku menjadi semakin berdosa mendengar pernyataannya. Tapi keputusannya itu pun yang membuatku semakin tidak bisa meninggalkannya. Lalu bagaimana dengan pria di seberang sana ? Pria yang sudah tiga tahun menjadi pria yang setia untukku. Yang setahun belakangan ini sudah ku khianati.

Bulan ketujuh di hari kedua, aku memutuskan untuk bertemu dengan kekasih gelapku. Ada sesuatu yang akan ku bicarakan padanya, sesuatu yang pasti akan membuatnya sedih sepanjang masa. Tidak hanya dia, tapi aku juga, wanita bodoh yang akan kehilangan cinta darinya. Kenapa ? Karena di bulan kesembilan di hari ke dua puluh enam aku akan bertunangan dengan pria yang selama tiga tahun menjadi kekasihku. Dan aku tak sanggup untuk mengatakan berita ini padanya. Aku benar-benar mencintainya, perasaanku ini sudah terbagi. Di satu sisi, pria yang akan bertunangan denganku adalah pria yang berhasil menyempurnakan hidupku, di satu sisi lain pria yang menjadi kekasih gelapku juga pria yang berhasil dengan baik meluluhkan hatiku. Tapi kini aku harus melepasnya, aku juga tidak ingin terus menyakiti perasaan orang-orang yang ku cintai. Mengenalmu adalah hal yang terindah dalam hidupku, maafkan aku telah mencintaimu. Aku belum mendapat ending untuk cerita ini, semoga dia bisa mengerti dan bisa menjadikan ending cerita ini menjadi bahagia….

Pria itu kini mulai bangkit berdiri. Dengan sisa-sisa tenaga yang dia punya, dia mulai berjalan, mengambil jaketnya dan beranjak ke Rumah Sakit untuk menemui wanita yang di cintainya. Perasaan campur aduk itu masih dia rasakan sesampainya di sebuah Rumah Sakit tempat kekasihnya di rawat. Di depan ruang ICU itu, berdiri seorang pria tinggi, rambut cepak dan berlesung pipit. Tak jauh dari pria itu berdiri, tampak dua orang ibu setengah baya duduk sambil terus menangis. Pria yang tadi berdiri itu berjalan mendekat dan mulai menjauh dari ruang ICU.

“ Rama….” kata pria berlesung pipit itu memperkenalkan dirinya.

“ Reza…. “

“ Cerita itu… “

“ Sudah saya baca. Saya mengerti….”

Rama menghela nafas panjang. Dia lalu menceritakan kecelakaan yang terjadi tiga jam lalu. Wanita yang bodoh itu bernama Dinda, yang tiga jam lalu berniat pergi menemui Reza, kekasih gelapnya untuk mengatakan perihal pertunangannya dengan Rama. Namun, di tengah perjalanannya, Dinda tertabrak mobil saat hendak menyeberang. Dan beberapa helai kertas yang diketahui adalah sebuah cerpen tergeletak di samping tubuhnya.

“ Jadi… kamu udah baca tulisan ini ? “

“ Iya… aku yang ngirim kertas-kertas itu lewat bawah pintu kontrakanmu… Karena ku lihat kontrakanmu kosong…. “

“ Jadi kamu juga tahu tentang hubungan ….”

“ Itu juga iya…. Haaah… aku bingung harus bagaimana….”

“ Maaf… ini semua salahku, seharusnya aku nggak ada di antara hubungan kalian…”

“ Bukan masalah siapa yang salah dan siapa yang bener.. Kita sama-sama udah tahu kenyataannya… Sampai sekarang aku nggak nyangka kalau udah diduain, dikhianatin, di….”

Rama terdiam, mengatur emosinya. Lama dua pria itu duduk terdiam, menunggu seorang wanita yang sama, terbangun dari tidur panjangnya. Di bulan ke tujuh di hari kedua itu, ada sebuah harapan yang ingin dicapai wanita yang terbujur lemah di balik tempat tidur itu. Dan harapan itu pula yang membangkitkannya untuk bisa bangun dari tidur panjangnya.

“ Mah… “

Suara lembut itu susah payah Dinda keluarkan, begitu lelahnya ia mencoba untuk bangun. Di hadapannya kini, samar-samar dia lihat sosok ibunya yang tampak sabar menungguinya.

“ Mah… Dimana Rama ? Dinda mau ketemu Rama…. Sebentar aja…”

“ Dinda…. Dinda masih lemah…. Nanti aja ya ketemu Ramanya, Dinda istirahat dulu…. “

“ Mah… Dinda nggak apa-apa kok. Dinda pengen ketemu Rama, sebentar aja…”

“ Ya udah, mamah panggilin Ramanya….”

Lima menit kemudian, Rama masuk ditemani Reza. Dinda terhenyak, tapi cepat-cepat Rama menenangkannya. Kini, diam itu kembali datang. Ketiganya hanya saling memandang. Dinda meneteskan air matanya dan mulai membuka pembicaraan.

“ Dinda minta maaf…. sama Rama, dan juga sama Reza…. Dinda bener-bener minta maaf… “ tangis itu makin menjadi.

“ Sssstt…. Dinda, tenang dulu. Dinda masih sakit…”

“ Rama….. Maafin Dinda…. “

“ Iya… Rama ngerti… Rama nggak marah….”

“ Rez…. sini…. Reza pasti udah baca cerita Dinda. Dinda hanya bisa nulis, Dinda nggak bisa ngomong langsung ke Reza. Dinda harap Reza ngerti posisi Dinda. Dinda sayang banget sama Reza…“

Dinda menangis di pelukan Reza, lagi-lagi kini mereka terdiam. Reza pun tidak mengeluarkan sepatah kata, hanya pelukan hangat dan ciuman mesra di kening yang bisa mengartikan diam itu. Seperti ada yang menimpuk badan pria itu dengan batu yang sangat besar, dia tak menyangka harus melepaskan wanita bodoh yang dicintainya itu. Lalu, senyum itu keluar juga dari wajah manisnya. Dengan suara berat menahan tangis sedih, pria itu berkata.

“ Makasih ya Din… atas semuanya. Gimana pun kamu adalah wanita terbaik dalam hidupku. Makasih untuk cintamu, dan maaf…. aku sudah menjadi penghancur cinta sejati kalian. Aku tahu cinta sejati tidak mengharapkan kehadiran orang ke tiga. Dengan begini, aku lega… bisa melepasmu bersama pria baik di sampingku ini. Jagain Dinda ya Mas… Jangan pernah sakiti Dinda “.

“ Reza… “

“ Reza nggak apa-apa kok, dibanding Reza, Rama cowok yang nggak sepatutnya di sakiti. Dia pria yang baik Din… Reza nggak apa-apa, beneran… Reza udah rela…. Sekarang, Dinda istirahat, Reza pulang dulu, nggak enak sama mamah Dinda, tadi Rama ngomongnya kalau Reza itu temen Rama, Reza takut mamah Dinda curiga. Cepet sembuh ya…”

Kecupan mesra di kening Dinda mengakhiri perjumpaannya dengan Reza. Pria itu pulang dengan perasaan yang galau. Ingin rasanya, dia pergi ke suatu tempat yang jauh sekali dan melupakan semua yang sudah terjadi. Tangisan itu masih ada, rasa cinta itu juga tidak akan pudar, tapi kini yang ada hanyalah penyesalan. Pria itu sadar, bahwa hubungannya dengan Dinda kemarin adalah kesalahan yang seharusnya tidak boleh diteruskan, tapi bagaimanapun juga kini pria itu bisa pulang dengan perasaan yang lega, karena menurutnya, mencintai seseorang berarti telah meraih sebagian surga.

***

Dua tahun kemudian….

Di bulan ketiga di hari ketujuh belas. Seorang pria dengan senyum yang manis, sedang memperhatikan gadisnya memilih model baju pengantin. Sesekali, pria itu membantu gadisnya itu memilih model yang cocok untuknya. Dan di bulan ketiga di hari ketujuh belas itu pula, seorang gadis ditemani seorang pria berlesung pipit juga sedang memilih kartu undangan pernikahan. Begitu terkejutnya mereka ketika pertemuan itu kembali terjadi.

“ Reza…”

“ Dinda… Rama….”

“ Lhoh, kok bisa ketemu di sini ? Ngapain…. Jangan bilang kalau kamu….”

“ Siapa Rez….”

“ Eh, kenalin…. ni Laura. Laura, ini temen-temenku, Dinda sama Rama…”

“ Laura….”

Di bulan ketiga di hari ketujuh belas itu, menjadi pertemuan yang terbaik untuk Reza. Kini, perasaan itu sudah tergantikan seiring dengan hadirnya seorang gadis yang mampu membuka kembali hati Reza.

….. Dan akhirnya, ending cerita ini pun berakhir. Setelah sekian lama tak kudengar kabarnya, setelah sekian lama juga tak ku lihat senyum itu kini telah kutemukan kembali. Dengan begini, cerita ini lengkap sudah, aku dan pria itu bisa kembali menjalin hubungan baik. Walaupun berbeda kehidupan, tapi semoga kami bisa menjalani hubungan pertemanan ini dengan tulus. Aku harap pria itu bisa bahagia dengan wanita pendampingnya. Dan untuk Rama, pendampingku, semoga dia bisa menjadi pelabuhan terakhirku untuk selamanya. Ingatlah, bahwa cinta sejati adalah cinta yang terdiri dari dua orang saja, dan tidak ada tempat bagi orang ketiga.

Pencarian Gaby

•2 PMpFri, 11 Apr 2008 13:40:37 +000040Jumat 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

12 Desember 2004

Dia biasa dipanggil Gaby, gadis berambut panjang itu kini mulai menghidupkan Blue, laptopnya. Dengan tidak sabar dia menunggu laptopnya berproses, di sudut meja kantin kampusnya itu, dia duduk dengan gelisah, berulang kali dia menghisap rokoknya yang sudah mulai memendek. Entah apa lagi yang akan dia kerjakan kalau sudah berhadapan dengan laptop, beberapa batang rokok di sampingnya, dan secangkir kopi panas yang pasti akan segera dingin karena terlalu lama didiamkan.

Dia mulai mengetik, sangat cepat, matanya awas memperhatikan tuts keyboardnya, sesekali dia memandang layar monitor dengan wajah penuh dengan pikiran. Suasana di kantin yang cukup ramai saat itu tidak membuatnya terganggu, dia tetap fokus pada tulisannya. Mungkin ini yang disebut sebagai penulis sejati, di tempat dan dalam keadaan apapun, asalkan ada ide pasti halangan apapun tidak akan menjadi suatu masalah. Begitu juga Gaby, gadis itu kian sibuk dengan dunianya sendiri, padahal banyak pasang mata kini mulai memperhatikannya, memperhatikan tingkah lakunya, menyendiri di sudut kantin dengan berbagai kertas di meja.

Gaby bukanlah gadis yang pendiam, justru dia termasuk gadis yang lincah dan aktif, dia selalu ada di setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh kampusnya. Mungkin lebih tepatnya hampir semua, paling tidak sebagian mahasiswa pasti kenal dengannya. Hanya saja, di saat seperti itu, di saat dia memiliki ide dan sudah dibuatnya kerangka ide itu, pastilah dia memilih untuk menyendiri. Teman-temannya sesama kuliah akan sangat hafal dengan kebiasaannya.

Gaby memang sangat suka menulis, bakatnya datang begitu saja semenjak dia menginjak masa puber. Kalau dihitung sudah banyak cerpen yang sudah dia buat, tapi sayang dia tidak mencoba mengirimnya ke berbagai perlombaan, dia hanya menyimpannya. Sebenarnya ada seseorang pula yang ikut andil dalam kebiasaannya itu, yakni ibunya, Nyonya Rika yang seorang Direktur Penerbitan namun tidak diketahui dimana keberadaannya kini. Dia seorang wanita karir yang gila kerja, sejak Gaby berumur 10 tahun, ibunya meninggalkannya dengan ayahnya. Dan inilah alasan Gaby untuk bertemu ibunya, sebuah pencarian yang hanya mengandalkan sebuah tulisan tentang pengalaman hidupnya dengan ibunya.

***

” Akhirnya… selesai sudah…” sahut Gaby puas, rokoknya yang masih setengah batang cepat-cepat dihisapnya dalam-dalam. Dia membuka print preview, membaca kembali tulisan yang sudah 2 tahun dia buat. Sangat lama memang, tapi baginya inilah waktu yang tepat untuk memberi ending untuk tulisannya. Selama dua tahun belakangan ini, Gaby menulis sebuah cerita tentang pengalamannya menjadi anak korban broken home. Itu semua semata-mata hanya untuk menebus dendamnya yang sangat lama dia pendam. Selama ini dia berniat ingin bertemu dengan ibunya, tapi dia sendiri tidak tahu dimana keberadaan ibunya sekarang. Informasi terakhir dia dapat dari ibu tirinya, yang sangat baik dengannya, dia hanya tahu bahwa ibunya seorang Direktur Penerbitan, pastinya penerbitan sebuah buku, dan satu-satunya cara untuk mencari dan menemuinya langsung adalah dengan menulis novel ini, pasti penerbit manapun akan mempunyai bukunya, itulah yang ada dipikran Gaby saat itu.

Gaby, kini mulai membereskan barang-barangnya. Dia melangkah dengan kepuasan yang teramat sangat. Dia mencari Herlambang, seorang editor buletin di kampusnya.

” Pie, Her… wes mantep rung ?” tanya Gaby dengan wajah penuh penasaran.

“ Lumayan… Ki ceritane tenanan yo? Ending-e kok rung rampung? ” tanya Herlambang kemudian. Yang ditanya hanya tersenyum-senyum, membuat Herlambang menjadi bingung akan tingkah temannya itu.

“Lha wonge we rung ketemu..”

“Tinggal di print ki, nek wes sukses aku di gratisi yo Gab…hehehe…”

Ledekan yang membangun itu cukup membuat Gaby semakin yakin akan tulisannya itu.

“ Maturtengkyu yo dhab?”

“ Yo..heeh…Good Luck yo…”

***

16 Desember 2004

Kriiinggg… suara telepon selular itu akhirnya terangkat juga oleh sesosok wanita anggun di seberang meja kerjanya. Wanita itu sibuk menerima telepon sementara seorang wanita muda lainnya menunggunya dengan setia. Dia berdiri di sampingnya, sesekali ia memeriksa kembali kertas-kertas tebal yang ada di tangannya.

“ Oh… oke-oke, pasti… ya… terima kasih Pak, selamat siang…”

Wanita itu kemudian duduk di kursi kerjanya, memeriksa kertas-kertas tebal yang dibawa oleh sekretarisnya.

”Apa ini?”

” Ini tulisan…maksud saya novel yang ingin diterbitkan…”

” Ya sudah… mana yang nulis?”

“ Di luar bu…”

“ Suruh pulang saja, bilang nanti akan dihubungi lagi”

“ Baik bu…”

***

Wanita itu meneguk kopinya sampai habis, sudah satu jam dia tidak beranjak dari tempat duduknya. Dia membaca halaman terakhir tulisan yang tadi siang masuk dan sampai ke tangannya. Dia melepas kacamatanya, kali ini dia terdiam, dia memandang sekitar meja kerjanya, dan menemukan sebuah foto. Dia mulai memandang langit-langit sambil menyandarkan kepalanya di kursi. Kemudian, dia menyalakan mesin pemanggil.

“ Sar, hubungi orang yang menulis cerita tadi siang sekarang!”

“Baik bu…”

Wanita itu kembali memandang langit-langit, sesekali memandang keluar jendela. Saat itu hari sudah sore, ada rasa penasaran tergambar dari raut wajahnya yang sudah mulai menua.

“ Cerita itu… “ katanya lirih.

***

Sore itu, Gaby datang membawa perasaan yang cambur aduk. Ada perasaan lain yang dia rasakan selain takut, yaitu kemarahan dan dendam. Dia begitu gugup menghadapi seseorang yang akan ditemuinya. Dia takut kalau yang dia temui adalah ibunya, Nyonya Rika dan kemudian dia akan kehilangan kendali karena kemarahannya terhadap ibunya. Dia telah sampai di depan seorang wanita yang kemungkinan besar menurutnya adalah seorang sekretaris. Wanita itu kini mulai menelepon bosnya, kemudian mempersilakan Gaby untuk masuk ke sebuah ruangan.

Jantung Gaby semakin berdegup kencang. Kini, dia telah masuk ke sebuah ruangan ber-AC yang sangat nyaman. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, tampak seorang wanita yang anggun sedang sibuk menerima telepon selular. Gaby tetap berdiri sambil menunggu.

” Terima kasih Pak…” suara wanita itu terdengar lembut, mengakhiri percakapannya. Wanita itu kini memandang lurus ke depan, sosok yang ada di depannya membuat jantungnya berdetak kencang, bulu kuduknya merinding. Dia berhasil mengendalikan dirinya , lalu tersenyum sambil mempersilakan gadis yang di depannya duduk.

” Masih sekolah atau sudah mahasiswa?” tanya Nyonya Rika kemudian.

” Mahasiswa bu ” jawab Gaby pendek. Dia masih terus memperhatikan wajah wanita yang ada dihadapannya. Dia memperhatikan lekat-lekat setiap garis-garis wajah wanita itu, dia masih ragu kalau wanita itu adalah ibunya. Wanita itu memperhatikan kembali tulisan yang sudah dibacanya satu jam yang lalu. Dan, saat itulah kesempatan bagi Gaby untuk memperhatikan kembali wanita itu. Dia mulai mengingat wajah ibunya dulu, dia mencari sesuatu yang khas yang tidak akan dia dapatkan di wajah wanita-wanita tua yang lain. Dapat! Dia menemukannya, lesung pipit itu, dia sangat mengenal senyum itu, senyum berlesung pipit di sebelah kiri. Gaby tertegun, dia menahan harunya, dia yakin benar bahwa wanita yang ada di hadapannya adalah ibu kandungnya.

” Sepertinya kamu sudah sering menulis ya…Bahasamu ini, sudah seperti penulis terkenal… Boleh ibu tahu, siapa penulis yang kamu idolakan?”

” Tidak banyak bu, kalau di jaman sekarang saya menyukai gaya penulisan Feby Indirani, mungkin dia tidak begitu terkenal, walaupun tulisannya tidak begitu berat, tapi pengalaman menulisnya di media massa dan majalah membuat tulisannya menjadi hidup ” jawab Gaby masih memandang wanita itu lekat-lekat.

” Kenapa tulisanmu ini tidak diberi ending ?”

” Bukan ”tidak” bu, melainkan ”belum”. Saya masih mencari tokoh yang dicari tokoh utamanya ” jawab Gaby yakin.

” Lalu, sudah ketemu ? Tulisanmu bisa saya terbitkan kalau sudah utuh, tidak begini. Kalau sudah ketemu, cepat-cepat diselesaikan!”

” Sudah… tapi saya belum tahu akan berakhir seperti apa dan bagaimana, karena tokoh yang saya cari ternyata ada di depan mata saya ”.

Wanita itu terhenyak, dia mulai menunduk, lalu kembali seperti sikap semula. Memandang gadis itu, gadis yang dia tahu ternyata Gabriela, anak semata wayangnya. Ada rasa terharu dan malu padanya dan pada dirinya sendiri.

“ Mah… mamah jahat banget sih?” tanya Gaby kemudian, tidak ada marah, tidak ada dendam, yang ada hanya tangis sedih. Kemudian dia terisak, tangisnya semakin menjadi. Wanita itu kini benar-benar yakin, tanpa berpikir lagi, dia lantas memeluk Gaby, putrinya. Mereka menangis bersama, saat itu adalah saat yang lama ditunggu-tunggu oleh Gaby, pencariannya berhasil.

“ Maaf Ela… Maafkan mamah meninggalkanmu dan papah. Tolong mengerti mamah… Mamah tidak ada maksud untuk mencampakkan kalian, tapi pekerjaan ini lebih dari segala-galanya”

” Yang kau baca itu mah, adalah perasaanku ditinggalkan olehmu. Kau tahu mah? Aku sangat menderita, menjadi anak hasil broken home tuh nggak enak mah… Sampai kapan mamah mau begini terus? Aku sudah 20 tahun mah, aku membutuhkanmu… Aku ingin sepertimu, tapi tidak begini caranya, aku tidak mau meninggalkan orang-orang yang kucintai. Demi Tuhan mah, kenapa aku harus menjadi anakmu?” Gaby terus menangis, sifat manjanya kini mulai tampak, dan sifat itulah yang membuat Nyonya Rika luluh.

” Iya… Mamah salah, mamah meninggalkanmu demi pekerjaan ini, tapi tolong dengar penjelasan mamah Ela… Saat itu situasinya sangat sulit, dan mamah harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga kita, kau tahu sendiri ayahmu hanya seorang pelukis yang tidak tentu pendapatannya. Karena alasan itulah ayahmu menceraikan mamah karena mamah terlalu sibuk bekerja, mamah harap Ela ngerti..” Wanita itu mulai mencium kening Gaby. Sore itu menjadi pertemuan yang mengharukan.

***

Pencarian Gaby selama bertahun-tahun akhirnya membawanya ke sebuah ending cerita yang hebat. Gaby menyelesaikan novel pertamanya, endingnya dia buat dengan apik, dan novelnya itu diterbitkan oleh sebuah Perusahaan Penerbitan yang dipimpin oleh ibunya sendiri. Di halaman terdepan novel itu dia tulis ”teruntuk engkau yang kucari selama ini…” yang tidak lain tidak bukan adalah ibu kandungnya.

rindank_sweety

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.