12 Desember 2004
Dia biasa dipanggil Gaby, gadis berambut panjang itu kini mulai menghidupkan Blue, laptopnya. Dengan tidak sabar dia menunggu laptopnya berproses, di sudut meja kantin kampusnya itu, dia duduk dengan gelisah, berulang kali dia menghisap rokoknya yang sudah mulai memendek. Entah apa lagi yang akan dia kerjakan kalau sudah berhadapan dengan laptop, beberapa batang rokok di sampingnya, dan secangkir kopi panas yang pasti akan segera dingin karena terlalu lama didiamkan.
Dia mulai mengetik, sangat cepat, matanya awas memperhatikan tuts keyboardnya, sesekali dia memandang layar monitor dengan wajah penuh dengan pikiran. Suasana di kantin yang cukup ramai saat itu tidak membuatnya terganggu, dia tetap fokus pada tulisannya. Mungkin ini yang disebut sebagai penulis sejati, di tempat dan dalam keadaan apapun, asalkan ada ide pasti halangan apapun tidak akan menjadi suatu masalah. Begitu juga Gaby, gadis itu kian sibuk dengan dunianya sendiri, padahal banyak pasang mata kini mulai memperhatikannya, memperhatikan tingkah lakunya, menyendiri di sudut kantin dengan berbagai kertas di meja.
Gaby bukanlah gadis yang pendiam, justru dia termasuk gadis yang lincah dan aktif, dia selalu ada di setiap kegiatan yang diselenggarakan oleh kampusnya. Mungkin lebih tepatnya hampir semua, paling tidak sebagian mahasiswa pasti kenal dengannya. Hanya saja, di saat seperti itu, di saat dia memiliki ide dan sudah dibuatnya kerangka ide itu, pastilah dia memilih untuk menyendiri. Teman-temannya sesama kuliah akan sangat hafal dengan kebiasaannya.
Gaby memang sangat suka menulis, bakatnya datang begitu saja semenjak dia menginjak masa puber. Kalau dihitung sudah banyak cerpen yang sudah dia buat, tapi sayang dia tidak mencoba mengirimnya ke berbagai perlombaan, dia hanya menyimpannya. Sebenarnya ada seseorang pula yang ikut andil dalam kebiasaannya itu, yakni ibunya, Nyonya Rika yang seorang Direktur Penerbitan namun tidak diketahui dimana keberadaannya kini. Dia seorang wanita karir yang gila kerja, sejak Gaby berumur 10 tahun, ibunya meninggalkannya dengan ayahnya. Dan inilah alasan Gaby untuk bertemu ibunya, sebuah pencarian yang hanya mengandalkan sebuah tulisan tentang pengalaman hidupnya dengan ibunya.
***
” Akhirnya… selesai sudah…” sahut Gaby puas, rokoknya yang masih setengah batang cepat-cepat dihisapnya dalam-dalam. Dia membuka print preview, membaca kembali tulisan yang sudah 2 tahun dia buat. Sangat lama memang, tapi baginya inilah waktu yang tepat untuk memberi ending untuk tulisannya. Selama dua tahun belakangan ini, Gaby menulis sebuah cerita tentang pengalamannya menjadi anak korban broken home. Itu semua semata-mata hanya untuk menebus dendamnya yang sangat lama dia pendam. Selama ini dia berniat ingin bertemu dengan ibunya, tapi dia sendiri tidak tahu dimana keberadaan ibunya sekarang. Informasi terakhir dia dapat dari ibu tirinya, yang sangat baik dengannya, dia hanya tahu bahwa ibunya seorang Direktur Penerbitan, pastinya penerbitan sebuah buku, dan satu-satunya cara untuk mencari dan menemuinya langsung adalah dengan menulis novel ini, pasti penerbit manapun akan mempunyai bukunya, itulah yang ada dipikran Gaby saat itu.
Gaby, kini mulai membereskan barang-barangnya. Dia melangkah dengan kepuasan yang teramat sangat. Dia mencari Herlambang, seorang editor buletin di kampusnya.
” Pie, Her… wes mantep rung ?” tanya Gaby dengan wajah penuh penasaran.
“ Lumayan… Ki ceritane tenanan yo? Ending-e kok rung rampung? ” tanya Herlambang kemudian. Yang ditanya hanya tersenyum-senyum, membuat Herlambang menjadi bingung akan tingkah temannya itu.
“Lha wonge we rung ketemu..”
“Tinggal di print ki, nek wes sukses aku di gratisi yo Gab…hehehe…”
Ledekan yang membangun itu cukup membuat Gaby semakin yakin akan tulisannya itu.
“ Maturtengkyu yo dhab?”
“ Yo..heeh…Good Luck yo…”
***
16 Desember 2004
Kriiinggg… suara telepon selular itu akhirnya terangkat juga oleh sesosok wanita anggun di seberang meja kerjanya. Wanita itu sibuk menerima telepon sementara seorang wanita muda lainnya menunggunya dengan setia. Dia berdiri di sampingnya, sesekali ia memeriksa kembali kertas-kertas tebal yang ada di tangannya.
“ Oh… oke-oke, pasti… ya… terima kasih Pak, selamat siang…”
Wanita itu kemudian duduk di kursi kerjanya, memeriksa kertas-kertas tebal yang dibawa oleh sekretarisnya.
”Apa ini?”
” Ini tulisan…maksud saya novel yang ingin diterbitkan…”
” Ya sudah… mana yang nulis?”
“ Di luar bu…”
“ Suruh pulang saja, bilang nanti akan dihubungi lagi”
“ Baik bu…”
***
Wanita itu meneguk kopinya sampai habis, sudah satu jam dia tidak beranjak dari tempat duduknya. Dia membaca halaman terakhir tulisan yang tadi siang masuk dan sampai ke tangannya. Dia melepas kacamatanya, kali ini dia terdiam, dia memandang sekitar meja kerjanya, dan menemukan sebuah foto. Dia mulai memandang langit-langit sambil menyandarkan kepalanya di kursi. Kemudian, dia menyalakan mesin pemanggil.
“ Sar, hubungi orang yang menulis cerita tadi siang sekarang!”
“Baik bu…”
Wanita itu kembali memandang langit-langit, sesekali memandang keluar jendela. Saat itu hari sudah sore, ada rasa penasaran tergambar dari raut wajahnya yang sudah mulai menua.
“ Cerita itu… “ katanya lirih.
***
Sore itu, Gaby datang membawa perasaan yang cambur aduk. Ada perasaan lain yang dia rasakan selain takut, yaitu kemarahan dan dendam. Dia begitu gugup menghadapi seseorang yang akan ditemuinya. Dia takut kalau yang dia temui adalah ibunya, Nyonya Rika dan kemudian dia akan kehilangan kendali karena kemarahannya terhadap ibunya. Dia telah sampai di depan seorang wanita yang kemungkinan besar menurutnya adalah seorang sekretaris. Wanita itu kini mulai menelepon bosnya, kemudian mempersilakan Gaby untuk masuk ke sebuah ruangan.
Jantung Gaby semakin berdegup kencang. Kini, dia telah masuk ke sebuah ruangan ber-AC yang sangat nyaman. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, tampak seorang wanita yang anggun sedang sibuk menerima telepon selular. Gaby tetap berdiri sambil menunggu.
” Terima kasih Pak…” suara wanita itu terdengar lembut, mengakhiri percakapannya. Wanita itu kini memandang lurus ke depan, sosok yang ada di depannya membuat jantungnya berdetak kencang, bulu kuduknya merinding. Dia berhasil mengendalikan dirinya , lalu tersenyum sambil mempersilakan gadis yang di depannya duduk.
” Masih sekolah atau sudah mahasiswa?” tanya Nyonya Rika kemudian.
” Mahasiswa bu ” jawab Gaby pendek. Dia masih terus memperhatikan wajah wanita yang ada dihadapannya. Dia memperhatikan lekat-lekat setiap garis-garis wajah wanita itu, dia masih ragu kalau wanita itu adalah ibunya. Wanita itu memperhatikan kembali tulisan yang sudah dibacanya satu jam yang lalu. Dan, saat itulah kesempatan bagi Gaby untuk memperhatikan kembali wanita itu. Dia mulai mengingat wajah ibunya dulu, dia mencari sesuatu yang khas yang tidak akan dia dapatkan di wajah wanita-wanita tua yang lain. Dapat! Dia menemukannya, lesung pipit itu, dia sangat mengenal senyum itu, senyum berlesung pipit di sebelah kiri. Gaby tertegun, dia menahan harunya, dia yakin benar bahwa wanita yang ada di hadapannya adalah ibu kandungnya.
” Sepertinya kamu sudah sering menulis ya…Bahasamu ini, sudah seperti penulis terkenal… Boleh ibu tahu, siapa penulis yang kamu idolakan?”
” Tidak banyak bu, kalau di jaman sekarang saya menyukai gaya penulisan Feby Indirani, mungkin dia tidak begitu terkenal, walaupun tulisannya tidak begitu berat, tapi pengalaman menulisnya di media massa dan majalah membuat tulisannya menjadi hidup ” jawab Gaby masih memandang wanita itu lekat-lekat.
” Kenapa tulisanmu ini tidak diberi ending ?”
” Bukan ”tidak” bu, melainkan ”belum”. Saya masih mencari tokoh yang dicari tokoh utamanya ” jawab Gaby yakin.
” Lalu, sudah ketemu ? Tulisanmu bisa saya terbitkan kalau sudah utuh, tidak begini. Kalau sudah ketemu, cepat-cepat diselesaikan!”
” Sudah… tapi saya belum tahu akan berakhir seperti apa dan bagaimana, karena tokoh yang saya cari ternyata ada di depan mata saya ”.
Wanita itu terhenyak, dia mulai menunduk, lalu kembali seperti sikap semula. Memandang gadis itu, gadis yang dia tahu ternyata Gabriela, anak semata wayangnya. Ada rasa terharu dan malu padanya dan pada dirinya sendiri.
“ Mah… mamah jahat banget sih?” tanya Gaby kemudian, tidak ada marah, tidak ada dendam, yang ada hanya tangis sedih. Kemudian dia terisak, tangisnya semakin menjadi. Wanita itu kini benar-benar yakin, tanpa berpikir lagi, dia lantas memeluk Gaby, putrinya. Mereka menangis bersama, saat itu adalah saat yang lama ditunggu-tunggu oleh Gaby, pencariannya berhasil.
“ Maaf Ela… Maafkan mamah meninggalkanmu dan papah. Tolong mengerti mamah… Mamah tidak ada maksud untuk mencampakkan kalian, tapi pekerjaan ini lebih dari segala-galanya”
” Yang kau baca itu mah, adalah perasaanku ditinggalkan olehmu. Kau tahu mah? Aku sangat menderita, menjadi anak hasil broken home tuh nggak enak mah… Sampai kapan mamah mau begini terus? Aku sudah 20 tahun mah, aku membutuhkanmu… Aku ingin sepertimu, tapi tidak begini caranya, aku tidak mau meninggalkan orang-orang yang kucintai. Demi Tuhan mah, kenapa aku harus menjadi anakmu?” Gaby terus menangis, sifat manjanya kini mulai tampak, dan sifat itulah yang membuat Nyonya Rika luluh.
” Iya… Mamah salah, mamah meninggalkanmu demi pekerjaan ini, tapi tolong dengar penjelasan mamah Ela… Saat itu situasinya sangat sulit, dan mamah harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga kita, kau tahu sendiri ayahmu hanya seorang pelukis yang tidak tentu pendapatannya. Karena alasan itulah ayahmu menceraikan mamah karena mamah terlalu sibuk bekerja, mamah harap Ela ngerti..” Wanita itu mulai mencium kening Gaby. Sore itu menjadi pertemuan yang mengharukan.
***
Pencarian Gaby selama bertahun-tahun akhirnya membawanya ke sebuah ending cerita yang hebat. Gaby menyelesaikan novel pertamanya, endingnya dia buat dengan apik, dan novelnya itu diterbitkan oleh sebuah Perusahaan Penerbitan yang dipimpin oleh ibunya sendiri. Di halaman terdepan novel itu dia tulis ”teruntuk engkau yang kucari selama ini…” yang tidak lain tidak bukan adalah ibu kandungnya.
rindank_sweety
Ditulis dalam cerpen
Komentar Terakhir